Fahmie memantul dirinya di cermin, memastikan penampilannya sekali lagi berputar kebalakang kedepan, membuat Bobby yang memperhatikannya terkikik geli "Mau kemana??,, rapi sekali,," tanya Bobby. Fahmie membalikkan badannya menggaruk garuk tengkuknya sambil nyengir kuda kearah pamannya "Mau keluar sebentar Paman,, sama Reza,," jawab Fahmie
Bobby kembali meneliti penampilan Fahmie yang tidak seperti biasanya, kemeja putihnya yang rapi yaah memang siih keponakannya ini mau pakai apapun sudah terlihat tampan tapi sore ini begitu terlihat berbeda "Mau kє acara resmi ya,,??" Tanya Bobby lagi Fahmie menggeleng, dan hanya tersenyum kecil menampilkan lesung pipinya, perhatian mereka teralih begitu bell pintu apartemen bobby berbunyi, Dengan cepat Bobby membuka pintu apartemen, kembali mematung melihat penampilan Reza yang tak kalah rapinya dengan Fahmie "Heiii,, tunggu,,!! Kalian mau double date yaa,," selidik Bobby. Reza membenarkan jas kemejanya, berjalan melewati Bobby lalu kembali memutar badannya "Menurut Paman???" Reza balik bertanya sambil melirik kearah Fahmie : Bobby mengikuti arah lirikan Reza, mendapati Fahmie yang sudah menegang seperti akan di introgasi "Ehm,, kami,, mau,, kondangan paman,, ya kondangan,," ucap Fahmie terbata. Sebelum Bobby bertanya macam macam Fahmie segera menyeret Reza keluar dengan membawa sebuah bingkisan kecil ditangannya tanpa banyak bicara lagi, Reza menjalankan mobilnya menuju tempat acara Rina berlangsung "Loe bawa apaan itu,,?" Tanya Reza saat berada didalam mobil "Bukan urusan Loe,," sahut Fahmie. Reza kembali mengalihkan pandangannya fokus pada kemudinya sambil tertawa kecil sepupunya yang polos ini kasihan sekali kalau dia hanya mengerjainya saja, Reza memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah studio besar, yang Fahmie sendiri Βά̲̣яǚ kali ini melihatnya pandangannya mengitari keseluruh area, mungkin ini tempat para artis artis itu berkumpul "Turun,, kenapa bengong,," hardik Reza Fahmie yang terkesiap segera turun dari mobil Reza mengikuti Reza yang entah akan membawanya kemana Reza terus saja mengajaknya berputar putar melewati sebuah lorong, lalu semenit kemudian Reza malah berpamitan untuk kє toilet dan menyuruh Fahmie menunggu didepan sebuah Ruangan Fahmie yang sendirian berkali kali menoleh kє kiri dan kekanan, kenapa sepi sekali?? Tempat Ά̲ρ̥̥ά̲ ini,, kemudian Fahmie memilih duduk disebuah kursi didepan Ruangan sambil menelonjorkan kakinya
*****
Rina yang Βά̲̣яǚ saja menyelesaikan tugasnya segera turun dari panggung, dia membelalak kaget begitu melihat banyaknya wartawan yang sudah menunggunya didepan ruang make upnya: "Kenapa Rin,,??" Tanya Irfan "Itu lihat disana,, kenapa banyak wartawan,,,??" Tunjuk Rina kearah ruang make upnya. Irfan juga terheran heran, tumben sekali banyak wartawan yang mengantri disana, pelan mereka berjalan mendekat kearah sana, lagi lagi mereka dibuat terkejut begitu melihat siapa yang tengah mereka wawancarai Rina dan Irfan saling berpandangan dan mengangkat bahunya penuh tanya "Saipul Jamil???" Ucap mereka bersamaan. Wartawan menjadi Riuh begitu melihat Rina berdiri didepan mereka, dengan cepat manusia kamera itu sudah membrondong Rina dengan seabrek pertanyaan yang membuat Rina terkejut bukan kepalang "Apaaahhh,,,?? Saya tidak mengerti,, dan saya tidak sedang dekat dengan Saipul Jamil,,," ucap Rina Saipul hanya mengulas senyumnya, dia berjalan mengahampiri Rina berdiri didekat Rina lalu merangkul pundak gadis itu, membuat Rina lagi-lagi melebarkan matanya вιηgυηg "Mungkin Rina ℳά̲̣siђ malu malu,, doakan saja yang terbaik untuk kami,," ucap Ipul kepada Wartawan. Dengan cepat Rina menampis tangan saipul, apa apaan ini jangan-jangan karena adegan diatas panggungnya sudah membuat sebagian orang mengira dirinya ª∂a̲̅ hubungan lebih "Maaaf saya permisi,,," ucap Rina. Namun wartawan yang haus akan berita itu malah terus mengejar Rina, Irfan yang berdiri disamping Rina hanya bisa melongo menyaksikan keributan: Karena tubuhnya yang kecil Rina berhasil meloloskan diri dari kejaran wartawan, Rina terus berlari melewati lorong-lorong disekitarnya, Rina berhenti didepan sebuah ruangan, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena kerjaran Wartawan itu Rina memilih duduk disebuah kursi "Permisi,,," ucap Rina pada seorang laki laki yang duduk disampingnya Fahmie yang sedari tadi menunduk kesal karena menunggu Reza yang seperti ditelan bumi meninggalkannya sendirian seperti gelandangan itu, menolehkan wajahnya begitu mendengar sapaan dari seorang wanita "Iyaaa,, silah,,," Fahmie terdiam tak melanjutkan kata katanya.
Oh God!!! Siapa yang duduk disampingnya ini,, apa dia tidak salah lihat, apa dia bermimpi di malam bolong begini, wanita ini wanita yang ª∂a̲̅ didalam poster di dinding kamarnya benar benar ª∂a̲̅ disampingnya. Belum sempat Fahmie membuka mulutnya, suara gaduh dari ujung lorong menyita perhatian mereka, Rina yang panik menoleh kearah Fahmie "Tolong bantu aku,, bersembunyi,," ucap Rina. Fahmie yang ℳά̲̣siђ terbengong bengong, belum merespon ucapan Rina dirinya begitu terkejut dengan kejadian menyenangkan sekaligus tak terduga ini. Fahmie tersadar begitu Rina menarik tangannya menyuruhnya berdiri "Ayoo,, cepat bantu aku bersembunyi,," Ucap Rina lagi: Tanpa pikir panjang lagi, Fahmie berganti menarik tangan Rina membawa wanita itu kabur sayangnya mereka salah arah hingga terjebak disebuah lorong buntu wartawan sudah semakin dekat mengejar mereka "Buntu,," Ucap Fahmie вιηgυηg. Rina terus memegang tangan Fahmie, berharap Fahmie bisa membantunya saat ini, Fahmie terus memutar otaknya bagaimana membantu Rina saat ini, "Jaket,,tunggu,,," Ucap Fahmie melepas jaket tebalnya yang menutupi kemeja putihnya "Mau ngapain,,,??" Tanya Rina вιηgυηg "Kau menurut saja,, pakai jaket ini,, tutupi wajahmu cepat,," perintah Fahmie. Rina menurut dan segera memakai jaket Fahmie yang kebesaran ditubuhnya lalu menutupi kepalanya, begitu wartawan sudah dekat dengan cepat Fahmie memeluk rina membalikkannya hingga punggung Rina bersandar didinding Rina berjingkat kaget, tapi tidak ª∂a̲̅ pilihan lagi, Rina menyandarkan dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Fahmie, dia bisa merasakan aroma parfum Fahmie disana Benar saja ternyata cara Fahmie ampuh mengelabuhi wartawan, mereka terlihat вιηgυηg dengan ulah Fahmie yang tengah memeluk wanita entah siapa itu "Kalian ini,, pacaran dilorong gelap begini,,," cibir salah satu wartawan. Fahmie menoleh kearah wartawan, dia sendiri tidak tahu harus menjawab Ά̲ρ̥̥ά̲, "Ehmm,, kalian mau cari siapa,,,??" Fahmie balik bertanya "Apa kau melihat artis Rina Nose berlari kesini,,,??" Tanya seorang wartawan lagi: Rina bergerak gerak gelisah didalam kukungan Fahmie jangan sampai dirinya ketahuan nantinya "Saya tidak melihatnya,, mungkin berlari kesana,,," Fahmie menunjukk salah satu lorong. Tak mau menunggu lama wartawan itu pun mengangguk dan mengikuti saran Fahmie. Rina mengehembuskan nafasnya legaan begitu mendengar wartawan itu pergi, begitu juga dengan Fahmie buru-buru dia segera melepaskan tangannya dari punggung Rina dan membuka topi jaket yang menutupi kepala Rina "Maaaff,, kau pasti sesak yaa,," ucap Fahmie. Rina membetulkan rambutnya yang berantakan, lalu tersenyum kearah Fahmie "Tidak apaa,,apaa,, terimakasih yaa sudah membantuku,," ucapnya. Fahmie mengangguk,, ishhh!!! kenapa jantungnya jadi marathon seperti ini yaa,, ternyata Rina jauh lebih cantik aslinya dibandingkan diposter "Kau bisa pulang sekarang,, wartawan itu sudah pergi,,," Ucap Fahmie. Rina kembali mendongak, kenapa mendadak gugup begini ya?? Kenal juga tidak,, heii mana Rina yang konyol kenapa tiba tiba jadi pendiam seperti ini "Eh,, iyaaa,, tapi???.. Mereka pasti ℳά̲̣siђ menunggu didepan mobilku,," Rina kembali menundukkan wajahnya. Fahmie mengerutkan keningnya, padahal tujuan awalnya dia hanya ingin bertemu idolanya saja memberi hadiah dan bukan malah begini gara gara si Reza tengil itu, Fahmie kembali berfikir, apa dia harus membantu Rina lagi tapi bagaimana caranya?? Si Reza juga belum balik-balik, "Kau mau ikut aku,,??" Tanya Fahmie akhirnya Rina yang вιηgυηg, hanya mengangguk yang terpenting dirinya bisa menghindar dari kejaran wartawan menyebalkan itu "Ayo,," Fahmie mengulurkan tangannya dan Rina membalas uluran tangan Fahmie. Mereka kembali berjalan keluar dari lorong, Rina mengernyit begitu melihat sebelah tangan Fahmie memegang sebuah bungkusan : "Itu apaa??" Tanya Rina, Fahmie menoleh kearah Rina mengikuti pandangan Rina yang tertuju pada tangannya, lha itu ќªñ mukena yang akan diberikannya kepada Rina, apa iya Fahmie harus memberikannya sekarang sepertinya waktunya kurang pas "Oh,, ini,, bukan apa Ά̲ρ̥̥ά̲,," bohong Fahmie "Lalu kenapa kau bisa ª∂a̲̅ distudio ini,, Ά̲ρ̥̥ά̲ kau bekerja disini,, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,,," ucap Rina bertubi tubi. Fahmie tersenyum kikuk, tadi diapartemennya dia bersemangat sekali ingin memberikan bungkusan itu, giliran didepan orangnya seperti ini nyalinya malah menciut "Aku,,, ehmm,, tadi,, mengantar sepupuku dia ingin bertemu dengan idolanya,,, iyaa begitu,," bohong Fahmie. Rina tersenyum manis, lucu sekali laki laki ini, menjawab seperti itu saja sudah kebingungan Keduanya kembali berjalan, melewati lorong lorong dengan diam, sibuk dengan pikiran masing masing, Fahmie sibuk dengan peristiwa yang dialami barusan bagaimana tidak tanpa diduga dia bertemu dengan Idolanya seperti ini bahkan sudah memeluknya. Sementara Rina sendiri вιηgυηg dan tak ђαßiz pikir bagaimana bisa si artis saipul jamil itu membuat berita aneh seperti itu, beruntung dia bertemu dengan laki laki polos yang membantunya barusan

